Do'a yang Selalu Dipanjatkan
Saat ini, di halaman belakang rumahnya yang cukup besar, Pak Putra sedang meminum tehnya dan merenungi akan nasibnya selama ini. Sejak kecil, pada saat Pak Putra berusia 6 tahun dia selalu diajak kedua orang tuanya yang sekarang telah meninggal untuk mengembala kambing dan sapi hingga usianya menginjak kurang lebih 12 tahun. Keinginannya dulu untuk melanjutkan sekolah tidak tercapai karena tidak memiliki biaya. Pak Putra memiliki 5 saudara, dia termasuk orang yang penurut kepada orang tuanya.
Pada waktu itu ketika ujian akan segera dilaksanakan, Pak Putra yang masih duduk di SMP saat itu dipanggil oleh guru wali kelasnya ke ruang guru.
“ Permisi pak, apa bapak memanggil saya?” Kata Putra.
“ Ya, saya memanggil kamu, silahkan duduk, Nak!” Kata Pak Guru.
Kemudian Putra pun duduk. Putra bertanya, “ Ada apa ya, Pak?”
Pak Guru langsung berbicara, “Kapan kamu akan membayar uang SPP kamu, Put?”
“ Kalau soal itu, saya akan tanyakan kepada ayah dan ibu saya dulu ya Pak,” Jawab Putra
“ Baiklah kalau begitu kamu boleh kembali ke kelas.” Kata Pak Guru lagi.
“ Baiklah Pak,” Balas putra.
Putra sangat sedih pada saat itu, karena setiap akan dilaksanakan ujian, dia selalu tidak bisa membayarnya. Hingga akhirnya Putra hanya lulus SMP saja.
Tahun demi tahun pun belalu, Putra pun sudah besar dan sudah bisa mencari pekerjaan. Hingga suatu hari, demi memenuhi kebutuhannya Pak putra membantu orang tuanya mencari uang dengan menjadi kuli bangunan selama hampir 2 tahun dan kemudian Pak Putra mencoba mencari pekerjaan.
“ Permisi Pak, apa disini ada lowongan pekerjaan?” Tanya Pak Putra.
“ Iya ada, tapi jadi pemborong.” Jawab orang tersebut.
“ Iya Pak, tidak apa- apa, asakan halal.” Pak Putra berbicara.
“ Kalau begitu, besok sudah boleh masuk kerja.” Ucap orang tersebut.
“ Baik Pak,” Kata Pak Putra.
Akhirnya Pak Putra pun bekerja di perusahaan tersebut sebagai pemborong. Pekerjaan itu pun tidak berlangsung lama karena perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan.
Demi mencari uang, Pak Putra bekerja menjadi kernet bis, dan selanjutnya behenti menjadi kernet bis. Pak Putra mencari pekerjaan kembali dan menjadi karyawan di sebuah perusahaan dan bekerja selama kurang lebih 4 tahun.
Pada tahun 2004 Pak Putra melangsungkan pernikahannya dengan Bu Sari, dia adalah istri Pak Putra sampai saat ini, dia adalah orang yang sederhana dan lemah lembut, tetapi usia lebih mudah 11 tahun lebih muda dari Pak Putra.
Ketika acara pernikahan telah berakhir dan semua keluarga berfoto bersama, pada waktu itu, Pak Putra menangis dan tangisan itu membuat semua keluarganya terkejut, meskipun dia ingin menyimpan diri perasaan sedihnya itu tetapi sesenggukan dari tangisannya terdengar.
“ Kenapa menangis?” Tanya istrinya.
“ Tidak apa- apa, aku hanya merindukan ibuku.” Jawab Pak Putra.
“ Tenanglah, ibu akan tenang disana.” Kata kakaknya yang paling tua.
Perasaan seorang yang sedang merindukan ibunya itu adalah hal yang wajar, terutama ibunya telah meninggal.
Pada tahun 2005 lahirlah seorang anak perempuan yang cantik dan dia diberi nama Zahra. Pada saat masih bayi, Zahra sering mengalami penyakit typus sehingga Pak Putra dan Bu Sari bingung, karena mereka harus membelikan obat untuk anaknya itu yang bahkan obat yang harus dibeli sangat mahal dan mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup dengan uang hasil kerja Pak Putra.
“ Bagaimana ini Bu, uang hasil pekerjaanku tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sehari- hari.” Putus asa Pak Putra.
“ Jangan begitu Yah, kita harus bersyukur atas apa yang Allah berikan, masih ada orang yang lebih susah, jadi kita harus bersabar.” Jelas Bu Sari.
Beruntunglah penyakit typus itu tidak berlanjut sehingga mungkin uang hasil pekerjaan Pak Putra cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecilnya itu. 5 tahun kemudian, Pak Putra dan Bu Sari dikaruniai anak laki-laki yang manis yang diberi nama Adit, sedangkan Zahra berusia 5 tahun. Zahra sangat berbeda dengan Adit. Karena Zahra adalah anak yang periang sedangkan Adit begitu pendiaam dan cengeng.
Pada suatu hari, ketika Zahra berlatih naik sepeda dengan Pak Putra.
“ Ayah, Zahra sudah bisa naik sepeda.” Kata Zahra.
“ Hati- hari ra, nanti jatuh!” Teriak ayah ketika Zahra mencoba bersepeda sendiri tanpa bantuan.
Sedangkan di sisi lain, Adit sedang makan disuapi oleh ibunya dan berniat ingin mengejar Zahra. Meskipun berapa kali ibunya teriak- teriak Adit pun tidak mendengarkannya hingga Adit terjatuh dan menangis keras, “ Ibu, awh…awh… sakit… sakit…”
Pak Putra dan Bu Sari pun terkejut dan langsung berlari menuju anaknya itu dan langsung menolongnya. Hingga berjam- jam Adit pun belum menghentikan tangisannya, ya begitulah Adit, meskipun dia pendiam tapi cengeng.
Tahun demi tahun berlalu, kini usia Zahra mencapai 14 tahun, dia kini duduk dibangku SMP kelas IX dan Adit kini duduk dibangku IV SD. Hari ini, adalah acara pembagian raport untuk Zahra. Bu Sari pun mengambil raport anaknya itu.
Ketika pembagian raport,
Guru wali kelas Zahra pun bertanya, “ Bu, apa Zahra sudah mendapat prestasi ini sejak dulu?”
Bu Sari pun menjawab sambil tersenyum, “ Alhamdulillah, sudak sejak TK Zahra sudah dapat prestasi.”
Wali kelas Zahra pun berbicara lagi, “ Kalau begitu alhamdulillah ya bu, semoga terus berlanjut prestasinya.”
“ Amiiiiin….” Kata Bu Sari.
Ketika Bu Sari pulang ke rumah, dia sudah disambut dengan anaknya, siapa lagi kalau bukan Zahra. Dia sangat tegang dengan nilai hasil raportnya, apakah nilai raportnya bagus atau jelek?
“ Bagaimana Bu, hasilnya?” Tanya Zahra dengan ekspresi yang tegang.
“ Bagus kok Ra,” Jawaban Ibu.
“ Benarkah?” Tanya Zahra lagi.
“ Iya Ra, ibu serius.”
Betapa bahagianya hati Zahra mendapatkan nilai yang bagus diraportnya. Tiba- tiba Pak Putra muncul dan mengagetkan Zahra.
“ Heh, kenapa sangat bahagia sekali anak ayah ini? Ada apa? ” Tanya Pak Putra.
“ Zahra dapat nilai bagus- bagus yah, ” Jawab Zahra sambil tersenyum.
“ Zahra mau minta hadiah apa? ” Tanya ayah lagi.
“ Apa ayah punya uang, kalau tidak punya jangan dipaksakan yah, Zahra tahu ayah udah bekerja keras demi membiayai hidup keluarga ini dan sudah membiayai biaya sekolah Zahra dan Adit juga.” Kata bijak zahra
“ Maafkan ayah ya Nak, kamu tidak bisa seperti teman- temanmu yang lain.” Kata Pak Putra sampai ingin meneteskan air matanya.
“ Ayah tidak perlu minta maaf, justru Zahra yang harus berterima kasih sama ayah dan ibu, karena kalian sudah merawat Zahra sampai sebesar ini ” Zahra berbicara.
“ Kalau begitu, Zahra traktir beli bakso deh, mau gak? ” Tanya Zahra.
“ Apa Zahra punya uang? ” Tanya Bu Sari.
“ Punya kok Bu, ” Ucap Zahra sambil tersenyum.
“ Maafkan ayah ya Zahra. ” Ucap ayah lagi.
“ Sudahlah yah, ” Jawab Zahra.
Zahra adalah anak yang periang dan cerewet tetapi dia sangat penurut kepada kedua orang tuanya. Dan pada malam itu adalah malam yang menyenangkan menurut Zahra, meskipun hanya makan bakso bersama yang sangat sederhana, namun bagi Zahra ada kebahagiaan tersendiri untuknya.
6 Tahun pun berlalu, Zahra sekarang telah berumur 20 tahun dan 15 tahun. Pak Putra dan Bu Sari pun sudah tua. Hari ini adalah hari Zahra masuk bekerja di perusahaan. Beruntunglah Zahra dapat bekerja di perusahaan yang dia impikan dan bisa bekerja sambil kuliah. Dia tahu bahwa ayahnya sudah tua dan tidak mampu bekerja, jadi dia mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Zahra begitu menekuni pekerjaannya saat ini, memeng sudah cita- cita Zahra ingin bekerja di sebuah perusahaan yang begitu besar dan jadi administrasi. Jadi, biaya untuk memenuhi kebutuhan tidak jadi menjadi masalah bagi keluarganya.
Hingga pada suatu hari, Zahra dipanggil ke ruang bosnya itu, Zahra sangat takut kalau dia akan dipecat.
Zahra pun sudah berada di depan ruang bosnya dan mengetuk pintunya.
“ Per…misi Pak, apa Ba…pak memanggil saya? ” Tanya Zahra dengan gugup.
“ Tidak perlu gugup, biasa saja, saya memanggil kamu karena saya mau bicara sama kamu.” Kata Bos Zahra.
“ Bicara tentang apa Pak, apa saya punya kesalahan? ” Tanya Zahra lagi.
“ Kamu tidak punya salah, saya ingin kamu menjadi sekretaris saya, kamu mau kan?” Ucap Bos Zahra langsung keintinya.
“ Benarkah itu Pak? Saya mau Pak. ” Jawab Zahra senang.
“ Kalau begitu mulai hari ini kamu jadi sekretaris saya. ” Kata Bos Zahra lagi.
“ Terima kasih Pak, ” Ucap Zahra sangat senang.
Sejak saat itu keluarga Pak Putra semakin bahagia dan hingga sekarang dia begitu bahagia dengan keluarga kecilnya itu. Anak- anaknya begitu menyayangi dia dan istrinya. Dan sekarang, dia sudah tidak memiliki beban hidup yang dipikulnya seperti dulu. Karena sekarang Zahra sudah menikah dengan bosnya sendiri. Cinta memang tidak tahu kapan waktunya datang. Dan sekarang, Adit sudah menjadi besar dan bijak. Anak yang begitu pendiam dan cengeng, sekarang dia sudah memiliki perusahaan tersendiri untuk dikelola.
“ Yah, kenapa melamun? ” Tanya seseorang yang tak lain adalah Adit anak laki-lakinya itu.
“ Adit, kapan kamu pulang? ” Tanya balik Pak Putra.
“ Baru saja,Yah! ” Jawab Adit.
“ Ibu ada di mana, Yah? ” Tanya Adit lagi.
“ Ibu di sini, Nak! ” Ucap Bu Sari yang mengagetkan Pak Putra dan Adit.
“ Ibu ngagetin aja! ” Ucap Adit yang kaget.
Adit pun memeluk ibu dan ayahnya itu untuk melepas rasa rindunya. Karena dia baru saja pulang dari Jepang.
“ Heh, ada apa ini? ” Tanya seorang perempuan yang sedang berbadan dua itu.
“ Kapan kakak kemari? ” Tanya Adit.
Seorang perempuan itu adalah Zahra yang sedang hamil saat ini.
Adit bertanya, “ Kakak ipar di mana Kak? ”
Zahra pun menjawab sambil tersenyum, “ Dia sedang memarkirkan mobilnya, sebentar lagi akan kesini. ”
“ Kalau begitu, kita ke meja makan yuk, ibu tadi sudah masak. ” Ucap Bu Sari.
“ Yaudah, ayah juga sudah lapar. ” Ucap Pak Putra sambil tertawa.
Sekarang Pak Putra merasa begitu senang dan sangat senang, karena dibalik kehidupannya ini. Dia selalu sabar dan pada akhirnya dia merasa bahagia karena melihat keluarga kecilnya yang dulu sangat sulit untuk dijelaskan dan sekarang dia bisa begitu tertawa lepas bersama anak- anaknya.
Pada waktu itu ketika ujian akan segera dilaksanakan, Pak Putra yang masih duduk di SMP saat itu dipanggil oleh guru wali kelasnya ke ruang guru.
“ Permisi pak, apa bapak memanggil saya?” Kata Putra.
“ Ya, saya memanggil kamu, silahkan duduk, Nak!” Kata Pak Guru.
Kemudian Putra pun duduk. Putra bertanya, “ Ada apa ya, Pak?”
Pak Guru langsung berbicara, “Kapan kamu akan membayar uang SPP kamu, Put?”
“ Kalau soal itu, saya akan tanyakan kepada ayah dan ibu saya dulu ya Pak,” Jawab Putra
“ Baiklah kalau begitu kamu boleh kembali ke kelas.” Kata Pak Guru lagi.
“ Baiklah Pak,” Balas putra.
Putra sangat sedih pada saat itu, karena setiap akan dilaksanakan ujian, dia selalu tidak bisa membayarnya. Hingga akhirnya Putra hanya lulus SMP saja.
Tahun demi tahun pun belalu, Putra pun sudah besar dan sudah bisa mencari pekerjaan. Hingga suatu hari, demi memenuhi kebutuhannya Pak putra membantu orang tuanya mencari uang dengan menjadi kuli bangunan selama hampir 2 tahun dan kemudian Pak Putra mencoba mencari pekerjaan.
“ Permisi Pak, apa disini ada lowongan pekerjaan?” Tanya Pak Putra.
“ Iya ada, tapi jadi pemborong.” Jawab orang tersebut.
“ Iya Pak, tidak apa- apa, asakan halal.” Pak Putra berbicara.
“ Kalau begitu, besok sudah boleh masuk kerja.” Ucap orang tersebut.
“ Baik Pak,” Kata Pak Putra.
Akhirnya Pak Putra pun bekerja di perusahaan tersebut sebagai pemborong. Pekerjaan itu pun tidak berlangsung lama karena perusahaan tersebut mengalami kebangkrutan.
Demi mencari uang, Pak Putra bekerja menjadi kernet bis, dan selanjutnya behenti menjadi kernet bis. Pak Putra mencari pekerjaan kembali dan menjadi karyawan di sebuah perusahaan dan bekerja selama kurang lebih 4 tahun.
Pada tahun 2004 Pak Putra melangsungkan pernikahannya dengan Bu Sari, dia adalah istri Pak Putra sampai saat ini, dia adalah orang yang sederhana dan lemah lembut, tetapi usia lebih mudah 11 tahun lebih muda dari Pak Putra.
Ketika acara pernikahan telah berakhir dan semua keluarga berfoto bersama, pada waktu itu, Pak Putra menangis dan tangisan itu membuat semua keluarganya terkejut, meskipun dia ingin menyimpan diri perasaan sedihnya itu tetapi sesenggukan dari tangisannya terdengar.
“ Kenapa menangis?” Tanya istrinya.
“ Tidak apa- apa, aku hanya merindukan ibuku.” Jawab Pak Putra.
“ Tenanglah, ibu akan tenang disana.” Kata kakaknya yang paling tua.
Perasaan seorang yang sedang merindukan ibunya itu adalah hal yang wajar, terutama ibunya telah meninggal.
Pada tahun 2005 lahirlah seorang anak perempuan yang cantik dan dia diberi nama Zahra. Pada saat masih bayi, Zahra sering mengalami penyakit typus sehingga Pak Putra dan Bu Sari bingung, karena mereka harus membelikan obat untuk anaknya itu yang bahkan obat yang harus dibeli sangat mahal dan mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup dengan uang hasil kerja Pak Putra.
“ Bagaimana ini Bu, uang hasil pekerjaanku tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan kita sehari- hari.” Putus asa Pak Putra.
“ Jangan begitu Yah, kita harus bersyukur atas apa yang Allah berikan, masih ada orang yang lebih susah, jadi kita harus bersabar.” Jelas Bu Sari.
Beruntunglah penyakit typus itu tidak berlanjut sehingga mungkin uang hasil pekerjaan Pak Putra cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecilnya itu. 5 tahun kemudian, Pak Putra dan Bu Sari dikaruniai anak laki-laki yang manis yang diberi nama Adit, sedangkan Zahra berusia 5 tahun. Zahra sangat berbeda dengan Adit. Karena Zahra adalah anak yang periang sedangkan Adit begitu pendiaam dan cengeng.
Pada suatu hari, ketika Zahra berlatih naik sepeda dengan Pak Putra.
“ Ayah, Zahra sudah bisa naik sepeda.” Kata Zahra.
“ Hati- hari ra, nanti jatuh!” Teriak ayah ketika Zahra mencoba bersepeda sendiri tanpa bantuan.
Sedangkan di sisi lain, Adit sedang makan disuapi oleh ibunya dan berniat ingin mengejar Zahra. Meskipun berapa kali ibunya teriak- teriak Adit pun tidak mendengarkannya hingga Adit terjatuh dan menangis keras, “ Ibu, awh…awh… sakit… sakit…”
Pak Putra dan Bu Sari pun terkejut dan langsung berlari menuju anaknya itu dan langsung menolongnya. Hingga berjam- jam Adit pun belum menghentikan tangisannya, ya begitulah Adit, meskipun dia pendiam tapi cengeng.
Tahun demi tahun berlalu, kini usia Zahra mencapai 14 tahun, dia kini duduk dibangku SMP kelas IX dan Adit kini duduk dibangku IV SD. Hari ini, adalah acara pembagian raport untuk Zahra. Bu Sari pun mengambil raport anaknya itu.
Ketika pembagian raport,
Guru wali kelas Zahra pun bertanya, “ Bu, apa Zahra sudah mendapat prestasi ini sejak dulu?”
Bu Sari pun menjawab sambil tersenyum, “ Alhamdulillah, sudak sejak TK Zahra sudah dapat prestasi.”
Wali kelas Zahra pun berbicara lagi, “ Kalau begitu alhamdulillah ya bu, semoga terus berlanjut prestasinya.”
“ Amiiiiin….” Kata Bu Sari.
Ketika Bu Sari pulang ke rumah, dia sudah disambut dengan anaknya, siapa lagi kalau bukan Zahra. Dia sangat tegang dengan nilai hasil raportnya, apakah nilai raportnya bagus atau jelek?
“ Bagaimana Bu, hasilnya?” Tanya Zahra dengan ekspresi yang tegang.
“ Bagus kok Ra,” Jawaban Ibu.
“ Benarkah?” Tanya Zahra lagi.
“ Iya Ra, ibu serius.”
Betapa bahagianya hati Zahra mendapatkan nilai yang bagus diraportnya. Tiba- tiba Pak Putra muncul dan mengagetkan Zahra.
“ Heh, kenapa sangat bahagia sekali anak ayah ini? Ada apa? ” Tanya Pak Putra.
“ Zahra dapat nilai bagus- bagus yah, ” Jawab Zahra sambil tersenyum.
“ Zahra mau minta hadiah apa? ” Tanya ayah lagi.
“ Apa ayah punya uang, kalau tidak punya jangan dipaksakan yah, Zahra tahu ayah udah bekerja keras demi membiayai hidup keluarga ini dan sudah membiayai biaya sekolah Zahra dan Adit juga.” Kata bijak zahra
“ Maafkan ayah ya Nak, kamu tidak bisa seperti teman- temanmu yang lain.” Kata Pak Putra sampai ingin meneteskan air matanya.
“ Ayah tidak perlu minta maaf, justru Zahra yang harus berterima kasih sama ayah dan ibu, karena kalian sudah merawat Zahra sampai sebesar ini ” Zahra berbicara.
“ Kalau begitu, Zahra traktir beli bakso deh, mau gak? ” Tanya Zahra.
“ Apa Zahra punya uang? ” Tanya Bu Sari.
“ Punya kok Bu, ” Ucap Zahra sambil tersenyum.
“ Maafkan ayah ya Zahra. ” Ucap ayah lagi.
“ Sudahlah yah, ” Jawab Zahra.
Zahra adalah anak yang periang dan cerewet tetapi dia sangat penurut kepada kedua orang tuanya. Dan pada malam itu adalah malam yang menyenangkan menurut Zahra, meskipun hanya makan bakso bersama yang sangat sederhana, namun bagi Zahra ada kebahagiaan tersendiri untuknya.
6 Tahun pun berlalu, Zahra sekarang telah berumur 20 tahun dan 15 tahun. Pak Putra dan Bu Sari pun sudah tua. Hari ini adalah hari Zahra masuk bekerja di perusahaan. Beruntunglah Zahra dapat bekerja di perusahaan yang dia impikan dan bisa bekerja sambil kuliah. Dia tahu bahwa ayahnya sudah tua dan tidak mampu bekerja, jadi dia mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Zahra begitu menekuni pekerjaannya saat ini, memeng sudah cita- cita Zahra ingin bekerja di sebuah perusahaan yang begitu besar dan jadi administrasi. Jadi, biaya untuk memenuhi kebutuhan tidak jadi menjadi masalah bagi keluarganya.
Hingga pada suatu hari, Zahra dipanggil ke ruang bosnya itu, Zahra sangat takut kalau dia akan dipecat.
Zahra pun sudah berada di depan ruang bosnya dan mengetuk pintunya.
“ Per…misi Pak, apa Ba…pak memanggil saya? ” Tanya Zahra dengan gugup.
“ Tidak perlu gugup, biasa saja, saya memanggil kamu karena saya mau bicara sama kamu.” Kata Bos Zahra.
“ Bicara tentang apa Pak, apa saya punya kesalahan? ” Tanya Zahra lagi.
“ Kamu tidak punya salah, saya ingin kamu menjadi sekretaris saya, kamu mau kan?” Ucap Bos Zahra langsung keintinya.
“ Benarkah itu Pak? Saya mau Pak. ” Jawab Zahra senang.
“ Kalau begitu mulai hari ini kamu jadi sekretaris saya. ” Kata Bos Zahra lagi.
“ Terima kasih Pak, ” Ucap Zahra sangat senang.
Sejak saat itu keluarga Pak Putra semakin bahagia dan hingga sekarang dia begitu bahagia dengan keluarga kecilnya itu. Anak- anaknya begitu menyayangi dia dan istrinya. Dan sekarang, dia sudah tidak memiliki beban hidup yang dipikulnya seperti dulu. Karena sekarang Zahra sudah menikah dengan bosnya sendiri. Cinta memang tidak tahu kapan waktunya datang. Dan sekarang, Adit sudah menjadi besar dan bijak. Anak yang begitu pendiam dan cengeng, sekarang dia sudah memiliki perusahaan tersendiri untuk dikelola.
“ Yah, kenapa melamun? ” Tanya seseorang yang tak lain adalah Adit anak laki-lakinya itu.
“ Adit, kapan kamu pulang? ” Tanya balik Pak Putra.
“ Baru saja,Yah! ” Jawab Adit.
“ Ibu ada di mana, Yah? ” Tanya Adit lagi.
“ Ibu di sini, Nak! ” Ucap Bu Sari yang mengagetkan Pak Putra dan Adit.
“ Ibu ngagetin aja! ” Ucap Adit yang kaget.
Adit pun memeluk ibu dan ayahnya itu untuk melepas rasa rindunya. Karena dia baru saja pulang dari Jepang.
“ Heh, ada apa ini? ” Tanya seorang perempuan yang sedang berbadan dua itu.
“ Kapan kakak kemari? ” Tanya Adit.
Seorang perempuan itu adalah Zahra yang sedang hamil saat ini.
Adit bertanya, “ Kakak ipar di mana Kak? ”
Zahra pun menjawab sambil tersenyum, “ Dia sedang memarkirkan mobilnya, sebentar lagi akan kesini. ”
“ Kalau begitu, kita ke meja makan yuk, ibu tadi sudah masak. ” Ucap Bu Sari.
“ Yaudah, ayah juga sudah lapar. ” Ucap Pak Putra sambil tertawa.
Sekarang Pak Putra merasa begitu senang dan sangat senang, karena dibalik kehidupannya ini. Dia selalu sabar dan pada akhirnya dia merasa bahagia karena melihat keluarga kecilnya yang dulu sangat sulit untuk dijelaskan dan sekarang dia bisa begitu tertawa lepas bersama anak- anaknya.
ππ
BalasHapusKerenn.ππΌ
BalasHapusMaaksih...
HapusKerenπ
BalasHapusMakasih
HapusGoodπ
BalasHapusBagus
BalasHapusπππ
BalasHapusHm?
BalasHapusKeren kakπ
BalasHapusMakasih...
Hapusπππ
BalasHapusMakasih
Hapusπ
BalasHapusMakasih...
BalasHapusGood
BalasHapusMasyaallah sangat menginspirasi
BalasHapusNice ��
BalasHapusMakasih
Hapusπππ
BalasHapusMakasih
HapusGoodπππ
BalasHapusMakasih
Hapusgood
BalasHapusBaguus
BalasHapusπππ
BalasHapusKisahnya menyentuh hati...
BalasHapusKisahnya menyentuh hati...
BalasHapusMakasih
HapusWow... Cerita bagus banget, terharu
BalasHapusMakasih
Hapus